Termakan Usia, Gedung Gereja Katolik Sita Perlu Diperbaiki

•June 13, 2008 • Leave a Comment

MANGGARAI— Gedung Gereja Katolik di Desa Sita, Kabupaten Manggarai, Flores Barat, Nusa Tenggara Timur sangat memerlukan perbaikan besar-besaran karena termakan usia. Beberapa komponen utama bangunan semisal atap seng, kaca-kaca dan kusen perlu diganti secara keseluruhan.
Kaca-kaca pada jendela-jendela model Ghotik itu harus diganti total dan keseluruhan lukisan di kaca jendela yang diambil dari kisah Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru harus digambar ulang.
Dindingnya sudah retak akibat gempa bumi yang mengguncang Flores tahun 1992. Karena dibangun dengan sungguh-sungguh, Gereja Sita luput dari amukan gempa yang menghancurkan sebagian besar bangunan semen di Flores. Namun, gempa bumi yang meluluhlantakkan Pulau Flores itu menyisakan sejumlah kerusakan cukup parah pada gereja Sita.
Umat setempat sudah berusaha melakukan perbaikan dalam 40 tahun terakhir. Bahkan, pada pertengahan tahun 1990-an, umat membangun sebuah ruang di salah satu sisi gereja dan sebuah gedung pertunjukan semi permanen di pelataran belakang gereja.
Pada setiap kali perayaan Paskah, murid Sekolah Dasar se-Paroki Sita menghibur umat lewat berbagai pertunjukan seperti tari, musik, teater dan olah raga (sepak bola), terutama pada tahun 1970-an.
Gereja berukuran besar untuk ukuran di desa itu dibangun atas kerja sama antara umat Sita, pemerintah setempat dan dana dari Gereja. Kontribusi umat Sita – kalau menggunakan istilah resmi Gereja Katolik adalah umat Paroki Sita – sangat besar.
Umat menyumbang pasir, batu dan balok. Dana dari gereja digunakan untuk membeli bahan bangunan yang tak terjangkau umat seperti kaca, seng dan besi beton. Dana itu juga untuk gaji tukang dan keperluan lainnya.

Bantuan Dana
Ketua Umum Panitia Rehabilitasi Gereja, Mateus Mamput, Ketua Pelaksana Kashmir Nggaro dan Pastor Paroki Marianus Oktores, Pr menganggarkan dana Rp 200.000.000 (dua ratus juta rupiah).
Dana ini untuk pembelian dan pengadaan mateks, pergantian atap seng, cat, daun pintu, rangka jendela, lantai keramik seluas 1000 meter persegi, tiang besi beton untuk loteng, semen untuk lantai, parit keliling gereja, dan pasir.
Dewan Gereja sepakat rehabilitasi gereja tua itu merupakan suatu momentum bagi umat untuk mempertahankan karya umat di masa lalu dan menatap bersama masa depan.
”Peringatan hari ulang Paroki Sita yang jatuh tanggal 15 Agustus harus ditandai dengan rehabilitasi gereja agar kerja keras umat Paroki Sita di tahun 1960-an selalu dikenang dan umat Paroki Sita masa kini dapat memandang masa depan secara bersama,” kata Kashmir Nggaro, mantan Kadis Kehutanan Kabupatan Manggarai yang pernah meraih penghargaan dari pemerintah pusat di tahun 1990-an berkat jasanya dalam penghijauan dan reboisasi. Dia juga digelar sebagai Rimbawan Indonesia.

Dalam Kenangan Seorang Sahabat

•June 13, 2008 • Leave a Comment

Oleh: Daniel Dhakidae
TANGGAL 5 April 2006 saya berada di Surabaya untuk suatu pertemuan. Malamnya saya tidur agak terlambat. Tiba-tiba saya mendengar bunyi ning-nong-ning-nong, bunyi bel kamar saya di salah satu hotel di Surabaya. “Damn it”, saya menggumam sambil menyesal mengapa tidak dipasang tanda “don’t disturb/jangan ganggu” di depan pintu. Apa urusan room service pada jam sebegini meski saya tidak tahu pasti jam berapa, dugaan saya mungkin jam 06:00, karena saya mau bangun terlambat. Namun, saya bangun juga dan membuka pintu, dan mata saya merayapi gang hotel yang sepi itu. Tidak ada orang. Saya memasang tanda “jangan diganggu” dan kembali tidur.

Setelah cukup nyenyak saya bangun dan lihat jam. Hmm…sekarang baru jam 06:00. Kalau begitu tadi mestinya jam 2 atau 3. Pikiran saya melayang ke belasan tahun lalu dengan pengalaman yang sama di kota yang sama, Surabaya. Waktu itu berita yang saya dapat adalah kakek istri saya meninggal. Pikiran ini mengganggu saya: siapa orang dekat saya yang mendapat musibah.

Biasanya jarang saya menghidupkan hand phone sepagi itu. Akan tetapi, pagi itu saya hidupkan. Benar saja. Seperti banjir pesan SMS bahwa Mgr. Abdon Longinus da Cunha, Pr meninggal dunia di Jakarta. Saya bukan tipe orang yang percaya tahyul. Akan tetapi kali ini saya pikir mungkin Longinus datang pamit untuk pergi selama-lamanya. Dalam hati saya hanya menggumam: saudaraku istirahatlah dalam damai! Tetapi mengapa begitu cepat?

Setelah memimpin rapat separuh hari, saya putuskan untuk segera kembali ke Jakarta dan di Katedral Jakarta saya masih sempat melihat wajahnya untuk terakhir kalinya.

Masa Kecil di Sekolah Menengah Seminari

Perkenalan kami sebenarnya sudah lama, dari generasi bapak. Bapaknya adalah sabahat bapak saya dan seluruh keluarga kami, yang kalau patroli ke Toto selalu menginap di rumah. Dan memang Longinus yang lahir di Boawae, 31 Juli 1945, selalu merasa dirinya orang Boawae dan dalam hubungan itu kepribadiannya terpecah antara menjadi orang Maumere yang business like, dan menjadi halus dan encer seperti orang Boawae. Karena itu, ketika kami bertemu dan bersama-sama menjadi anak Seminari Menengah Santo Johanes Berchmans Todabelu-Mataloko, Flores, tidak terlalu membutuhkan waktu lama untuk saling berkenalan.

Kelas kami kecil, hanya berjumlah 29 orang ketika berada di kelas satu dan hanya menjadi 12 orang ketika berada di kelas tiga. Dan, karena setiap tahun pada waktu “Pesta Famili” selalu ada pertandingan kelas maka jumlah sebelas orang dengan sendirinya menjadi satu elftal alias kesebelasan sepak bola. Karena hanya duabelas orang, praktis untuk setiap pertandingan antar-kelas, semua harus bermain. Abdon Longinus da Cunha sangat gemar men-dribble bola, atau istilah Flores “menggoreng bola”; Josef Niessen Parera, selalu memilih posisi kiri luar, dan selalu berusaha mengadakan sliding tackling, atau dengan istilah Flores “potong tidur”, meskipun jarang saya lihat bola masuk karena tendangan kirinya yang dasyat itu, karena gaya potong tidur lebih penting daripada masuknya bola. Dua pemain waktu di kelas satu adalah tipe “tukang sapu bersih”—yang pertama Melchior Lewa dariBoagu, Boawae, yang berlari lurus ke depan seperti kereta api, sekali mendapatkan bola di wilayah kiri, bola akan terus digulirkan sampai mati sendiri di sisi kiri, atau sisi kanan lawan, tanpa pernah melihat di mana letak tiang gol. Kedua, adalah Simon Setu, dari Watuneso, yang lebih menjadi tukang gebuk; Frans M. Parera sangat jarang mampu merebut bola, dan saya sendiri pun tidak kuat merebut bola, tetapi sekali mendapat bola malah menendangnya masuk ke gawang sendiri.

Di kelas kami yang kecil itu selalu terjadi persaingan, terutama antara kami berempat: Piet Sina, Frans Parera dari Bajawa, Longinus sendiri dan saya. Persaingan kami berkisar hanya pada beberapa mata pelajaran yaitu aljabar, bahasa Inggris dan Latin. Persaingan itu hanya untuk mengetahui siapa mendapat angka sembilan untuk pelajaran mana, dengan pusat persaingan pada bahasa Inggris dan Latin. Setiap kali ujian semester ketika dibagi rapor kami saling mengintip siapa mendapat sembilan terutama untuk ketiga mata pelajaran tersebut, karena ketika mendapat angka 7 masing-masing berbasah mata menangisi nasibnya.

Bakat memimpin sudah diketahui sejak Seminari Menengah. Ketika berada di kelas tujuh, Longinus menjadi ketua umum seluruh seminari menengah. Saya masih ingat betul jabatan ketua umum itu sudah diperoleh ketika kami berada di kelas enam. Ketika acara melepas kelas tujuh saya diberikan tugas oleh sang Ketua Umum untuk memberikan “pidato perceraian”, memang itu bahasa yang dipakai bukan “pidato perpisahan” seperti istilah sekarang (bahasa seperti itu masih hidup dengan baik di Malaysia sekarang). Karena pada waktu itu semua terkagum-kagum pada Bung Karno, maka tidak ada pengertian “kesedihan” dalam “perceraian” dari Seminari Mataloko menuju seminari tinggi-Ledalero, Ritapiret, atau seminari tinggi Fransiscan di Jawa.Karena itu, saya masih ingat betul pidato saya waktu itu diawali dengan seruan perang: Estote fortes, fortes in bello et pugnate! Perkasalah, dan perkasalah dalam perang dan bertempurlah untuk meraih cita-citamu!

Longinus hanya tertawa karena dia tahu bahwa si Daniel hanya mau bikin gara-gara saja. Sejak seminari menengah Longinus pada dasarnya seorang anak baik, dan hanya mau “kurang ajar” kalau saya yang mengajak berontak.

Dan juga kehidupan panggilannya juga tidak seluruhnya berjalan mulus di sekolah seminari menengah. Pada suatu waktu kesebelasan Seminari Santo Johanes Berchmans harus bertanding pemanasan dengan kesebelasan Manggarai yang sedang dalam perjalanan menuju pertandingan sesungguhnya di Ende yang pada waktu itu dikenal sebagai PORDAF ( Pekan Olahraga Daerah Flores). Karena pertandingan berlangsung pada hari Minggu, kira-kira jam empat sore, maka sebelumnya ada upacara salve. Yang memimpin doa berdoa bertele-tele, dan kami waktu itu, yang berada di kelas tiga sudah gusar dan tidak sabar menunggu sehingga dengan sengaja membuat bunyi-bunyi kersak-kersek sepatu dan sendal, dan Longinus menutup buku liber usualis yang tebal itu dengan bunyi nge-bum!

Setelah itu Longinus dipanggil Rektor, mungkin atas laporan si pengangkat doa, dan akan dikeluarkan dari Seminari Mataloko. Tapi mungkin dengan pertimbangan lain diberikan pengampunan dari pihak Rektor. Namun, sebagai gantinya setiap hari Rabu dan Sabtu harus memikul tanah untuk menguruk gedung baru yang khusus dibangun untuk siswa-siswa SMA seminari, selama satu bulan. Suatu siksaan yang lumayan berat karena jarak cukup jauh menuju gedung SMA yang baru.

Pemberontak di Seminari Tinggi

Setelah di Mataloko kami sama-sama melamar ke Seminari Tinggi Ritapiret. Di sini baru dunia itu nampak dalam wajah sesungguhnya dan serem. Dunia “main-main” praktis pupus dengan meninggalkan seminari menengah. Semuanya secara simbolik kelihatan dalam wajah Romo Josef Fernandez, yang menjadi pater spiritualis kami di Ritapiret. Semua kami memang terkejut dengan jenis kehidupan baru yang begitu “tanpa ampun”. Dari segi musik saja sudah mengejutkan. Kami sudah terbiasa dengan musik polifon normal akan tetapi dengan mencapai Seminari Tinggi yang ada semata-mata mannenchoor, koor polifon dengan suara laki-laki dewasa. Kenangan indah seminari menengah mengusik kalbu semua kami. Ketika menginjak tahap tahun Filsafat Dua, lagi-lagi Longinus menjadi Ketua para filosofen pada tahun 1966-1967.

Inilah saat-saat menentukan yang dalam kenangan balik menjadi tahun-tahun penuh gelora di seluruh tanah air. Soekarno baru saja dijatuhkan, dan seluruh gemuruh dari gerakan “Angkatan 66″ juga sampai ke Flores. Ratusan ribu anggota PKI dibunuh; pembunuhan juga berlangsung dengan tidak kurang kejamnya di Maumere. Semuanya memberikan guncangan besar baik secara moral maupun politik.

Di dalam gereja pun berlangsung gerak besar dari Roma dengan Konsili Vatikan II, yaitu aggiornamento, menyesuaikan gereja dengan gerak modern. Dengan kata lain, modernisasi gereja dan melihat kembali praktek-praktek abad menengah dan disesuaikan kembali dengan derap kehidupan modern.

Semuanya ini masuk kembali ke dalam kehidupan kongkrit gereja Flores. Dua isu penting muncul di sini. Pertama, aggionamento juga harus berlangsung di dalam sistem pendidikan di Ledalero dan Ritapiret. Kedua, muncul isu Indonesianisasi gereja di Flores dan Indonesia pada umumnya.

Dalam kehidupan di Ritapiret semuanya mendapatkan gema sangat serius. Dalam hal aggiornamento kelas kami mendapat tugas untuk mengadakan lokakarya tentang pendidikan Seminari Tinggi dan kebetulan dalam rangka menyambut St. Thomas Day, hari Santo Thomas Aquinas, pelindung para frater filosofen. Saya sendiri menjadi project officer, kalau mau dibahasakan dalam bahasa zaman sekarang. Karena kami masih hijau dalam bidang ini maka kami mendekati pater Clemens Parera, SVD untuk menjadi penasihat untuk melihat perkembangan teologi keimaman, dan pendidikan filsafat di Seminari Tinggi.

Ketika tiba tanggal 7 Maret 1967 kami menyelenggarakan simposium tersebut yang dihadiri oleh semua frater dari Ledalero dan Ritapiret. Simposium dibuka dengan suatu pengantar umum yang diberikan oleh Frater Longinus da Cunha, dan pendidikan filsafat diberikan oleh Frater Wenceslaus Wenas, dan saya sendiri membawakan paper tentang perkembangan sosio-teologis pandangan keimaman. Dalam pengantarnya Frater Longinus mengatakan perlunya perubahan besar sistem pendidikan untuk menjemput dunia modern. Dalam pembahasan tentang filsafat kesimpulannya adalah harus dibongkar seluruh kurikulum dan sistem pendidikan filsafat dan meninjau kembali Thomisme di dalam filsafat untuk menjemput pandangan dan ide tentang imam di dalam masa modern.

Semua ini menyinggung perasaan para profesor di Ledalero dalam sesuatu yang dikerjakan oleh kaum ingusan di Ritapiret. Dan memang semua kami benar-benar ingusan baik dari segi pendidikan, dan juga ingusan dari segi umur karena semua kami rata-rata berumur 21 tahun, belum apa-apanya dalam mempelajari filsafat dan teologi.

Keadaan semakin diperparah lagi oleh peristiwa berikut. Pater Lambert Padji Seran, SVD membelikopiah hitam sebagai hadiah Paskah untuk frater-frater teologan. Ketika frater teologan turun kuliah di Ledalero dengan berkopiah hitam ala Bung Karno semua terkejut seolah-olah Ritapiret sedang menjalankan demonstrasi mempercepat proses Indonesianisasi dengan dukungan nasionalisme.

Inilah masa krisis besar bagi gereja di Flores dan NTT pada umumnya. Setelah itu beruntun terjadi bahwa frater-frater dalam rombongan besar meninggalkan seminari dan juga puluhan pastor yang menanggalkan jubah dengan berbagai alasan.

Longinus dibentuk dalam alam dan suasana seperti itu sampai tahbisan imam dan tahbisan uskupnya. Monseigneur Longinus da Cunha. Kabar-kabar angin sudah sering didengar bahwa Romo Longinus menjadi calon Uskup Agung yang sangat serius. Berita itu kami terima dengan begitu saja. Namun, ketika diumumkan secara resmi, kira-kira awal April 1996 maka kami beberapa teman di Jakarta merencanakan suatu pertemuan dengan Longinus. Pada suatu hari tertentu kami, saya sendiri, Frans Parera, Dr. Ignas Kleden, dan Wenceslaus Wenas, mengundang Longinus untuk suatu pertemuan inter amicos, antar teman. Ketika kami mengusulkan hari tertentu, dia katakan sudah ada acara dengan seorang pejabat. Namun, kami katakan tunda saja acara dengan pejabat tersebut karena dalam suasana seperti ini sahabat lebih penting. Dia benar-benar batalkan acara dengan pejabat tersebut.

Kami berhasil “mendaulat” Longinus ke restoran di suatu hotel ternama di Jakarta. Kami berbicara dan berdiskusi di sana praktis hampir sepanjang hari dengan beberapa kesimpulan antara lain; Pertama, kami mendukung sepenuh-penuhnya masa keuskupannya dan dalam batas wilayah keahlian dan spesialisasi kami masing-masing, kami akan memberikan sumbangan. Kedua, gereja sedang dan sudah berubah, dan perubahan itu bergerak menuju umat dan umat itulah gereja, dan bukan sebaliknya. Masa keuskupannya sebaiknya menjadi pertanda menuju perubahan itu. Ketiga, dan ini yang terpenting dari semuanya, kami hanya akan memanggil Monseigneur Abdon Longinus di depan umum, dan akan memanggil “Ginus” kalau kita bertemu.

Untuk dua kesimpulan pertama Longinus dengan sangat serius mendengar dan hanya tertawa terbahak-bahak ketika mendengar kesimpulan ketiga dari suatu diskusi dan makan-makan dari jam 11:00 pagi sampai jam 18:00. Baru setelah itu Longinus mencari waktu untuk menemui pejabat yang sudah membuat janji di atas.

Saya tidak pernah bertanya kepada Mgr. Longinus, apakah semboyannya “audiens et proclamans”, mendengar dan mewartakan, adalah hasil diskusi sehari itu.

Memang banyak perubahan yang diberikan dalam masa keuskupannya, dan ruang tidak memungkinkan suatu pembicaraan panjang-lebar tentang itu. Namun, ada dua hal yang perlu dikemukakan di sini. Pertama, masalah pendidikan. Ada banyak masalah pendidikan yang dihadapi. Akan tetapi yang paling menyita perhatiannya adalah pendidikan menengah, dan terutama pendidikan seminari menengah. Karena itu, ketika Seminari Menengah Santo Johanes Berchmans merayakan ulang tahun ke- 75 saya pikir Mgr. Longinus memberikan perhatian yang sangat besar dan melibatkan seluruh umat di dalam wilayahnya untuk memikirkan pendidikan seminari menengah yang penuh persoalan material dan yang bukan material.

Para alumni yang tersebar di begitu banyak tempat dan sudut-sudut negara ini tentu saja datang ke Seminari Menengah di Mataloko tentu saja karena rasa rindu dan nostalgia kepada kehidupan sekolah menengah. Namun, dengan melihat kembali ke belakang dukungan besar tersebut terutama karena pribadi dan kepribadian Mgr. Longinus yang hangat.

Renungan Penutup

Kini Ginus atau Monseigneur Abdon Longinus sudah tiada, dan meninggalkan kita semuanya sebagai umat, sebagai adik, sebagai kakak, dan sebagai sahabat. Dan benar-benar dalam kenangan ini saya maksudkan dia sebagai saudara. Ketika masih di Seminari Menengah saya memberikan nama Longinus untuk adik saya yang baru lahir dia tertawa saja. Ketika sudah menjadi uskup agung, Lilly, istri saya,selalu memberikan hadiah parfum dan after shave merek Aramis, parfum kesayangan saya sendiri. Dia mengatakan, dia selalu memakai parfum itu. Pada tahun 2003 saya menelepon dari Jakarta ke Ndona, Ende untuk meminta kesediaannya bersama kami merayakan ulang tahun mama yang ke delapan puluh pada bulan Juni tahun itu. Dengan penuh semangat dia mengatakan bersedia.

Dan ketika sampai pada puncak acaranya, saya mendengarkan kotbahnya yang panjang, dan indah, dan menyentuh tentang peran ibu, rumah, dan keluarga dalam hubungan dengan rumah kecil yang baru dipugar untuk mama saya, di mana dia membubuhkan tandatangannya di atas batu prasasti. Rumah, sejauh ia berarti house, tidak banyak artinya betapa pun mewahnya. Hanya dengan menjadi home, rumah itu berarti dan bermakna, dan biasanya mama yang membuat house menjadi home bagi suatu keluarga.

Belum pernah saya mendengar Monseigneur Longinus memberikan kotbah seindah itu. Dan, ketika saya sendiri harus berbicara atas nama keluarga saya mengatakan dengan penuh rasa terima kasih atas kehadiran semuanya, terutama Longinus, untuk keluarga saya, dengan kata-kata yang sama sekali bertolak-belakang dengan kata-kata berapi-api dalam pidato “pesta perceraian” di Mataloko yang ditugaskan Longinus kepada saya. Saya terbuai oleh kotbahnya dan hanya mengatakan: “o…beata nox”, betapa membahagiakan malam itu.

Kemudian, dalam suatu acara yang lain lagi, baru dia sendiri memberikan penjelasan bahwa dia selalu tertarik, dan, kalau tidak ada halangan yang sangat serius, pasti dia datang untuk membahagiakan pasangan bapak dan ibu di mana pun di wilayahnya yang merayakan umur 70 atau 80 tahun, atau perkawinan emas, 50 tahun, untuk satu alasan sederhana yaitu dia sendiri tidak mampu merayakannya untuk bapak dan mamanya sendiri yang tidak pernah merayakan 80 tahun umurnya atau ulang tahun emas perkawinannya, karena sudah meninggalkan dunia ini jauh-jauh sebelumnya.

Mama saya meninggal tanggal 3 April 2005. Persis setahun kemudian Monseigneur Abdon Longinus menyusul. Mungkin bukan menyusul mama saya yang meninggal dalam umur delapan puluh tahun lebih, akan tetapi kembali ke rumah abadi, di mana bapak dan mamanya sendiri sudah jauh-jauh hari sebelumnya menetap.

Kotbahnya seakan-akan menjadi ramalan bagi dirinya sendiri ketika pada tanggal 6 April 2006, pagi-pagi buta, Monseigneur Longinus kembali ke eternal home, rumah abadi, milik al Khalik. Amice et Frater, Requiescas in Pace! Sahabat dan Saudaraku Beristirahatlah dalam Damai.

*) Penulis adalah alumnus Seminari Menengah
St. Johanes Berchmans Todabelu, Mataloko, Ngada.

Gereja St Lukas Bernuansa Budaya Flores

•June 13, 2008 • Leave a Comment

MISA perayaan natal di sejumlah gereja-gereja di Kota Tepian dipadati ribuan umat kristiani, Senin (24/12) malam. Seperti terlihat di Katedral Santa Maria Jl Sudirman dan Gereja Katolik Santo Lukas Jl Achmad Yani. Beberapa jam sebelum pelaksanaan misa, sejumlah panitia internal gereja tampak sibuk mempersiapkan pernak- pernik hiasan dalam gereja.
Di Gereja Katolik Santo Lukas, sejumlah panitia Natal sibuk mempersiapkan kursi-kursi plastik di halaman gereja. Ribuan kursi itu disusun rapi di bawah tenda cukup besar yang sudah disiapkan panitia. “Kursi di halaman gereja ini disiapkan untuk jamaah yang tidak tertampung dalam gereja. Seperti tahun-tahun sebelumnya,” ungkap salah satu panitia natal, Yeremias.

Menurut Ketua Panitia Natal Gereja Katolik Santo Lukas, Aquan Fransis, sudah menjadi tradisi setiap tahun ornamen gereja dibuat berbeda. Tahun sebelumnya, hiasan gereja bernuansa khas budaya negeri China. “Tahun ini, kami mengambil tema ornamen dari daerah Flores Manggarai. Bisa dilihat dari kain-kain di depan mimbar dan beberapa kain pelapis meja berasal dari Flores,” beber Aquan.

Bahkan, pada misa malam, digelar tari-tarian khas dari Flores. Sedangkan misa pagi hari (pagi ini) yang biasanya dikhususkan untuk anak muda, akan dipimpin langsung dari keuskupan agung. “Dalam perayaan Natal, ada dua misa yang akan dilaksanakan. Pada malam hari dan besok paginya (hari ini, Red.),” katanya.

Kesibukan yang sama juga terlihat di Katedral Santa Maria, menurut Ketua Panitia Natal Djoko Sarwono, pihaknya sejak beberapa hari terakhir sudah mempersiapkan perayaan Natal dengan menggelar misa bersama. “Kami sudah mempersiapkan sejumlah perlengkapan ribuan kursi di dalam gereja dan halaman gereja,” katanya.

Untuk hal khusus di katedral, kata Djoko, tidak ada yang spesial. Tetapi seperti tahun-tahun sebelumnya, prosesi misa menjadi puncak dari perayaan Natal. “Untuk keamanan kami mempercayakan kepada aparat Poltabes Samarinda bersama panitia keamanan,” ujarnya. (wis)

Pertahankan Kerukunan Beragama di Padang

•June 13, 2008 • Leave a Comment

Uskup Padang, Mgr Martinus Dogma Situmorang OFMCap menyatakan, kerukunan dan toleransi umat beragama perlu dijaga demi terciptanya kedamaian antarumat beragama. Uskup sendiri menyatakan kebanggaannya, karena kerukunan yang dimaksud, sudah terjadi selama ini di ”Ranah Minang”, Padang, Sumatera Barat.

“Selama 25 tahun menjadi Uskup, saya bangga dengan umat beragama di Padang. Satu sama lain saling menjaga dan menjunjung tinggi kerukunan hidup dalam beragama,” katanya kepada SP di Padang, Kamis (12/6).

Mgr MD Situmorang merayakan pesta perak (25 tahun) tabisannya sebagai Uskup Padang, Sumbar dalam Misa Syukur yang berlangsung di Gedung Olahraga (GOR) Prayoga, Padang, Rabu (11/6).

Pesta perak yang diikuti ribuan umat Katolik ini berlangsung meriah dan khidmat dengan atraksi seni dan pementasan operet perjalanan karya MD Situmorang sebagai Uskup.

Ketika ditunjuk Paus Yohanes Paulus II menjadi Uskup Padang menggantikan Mgr Raimondo Bergamin, SX. Pada 11 Juni 1983, Mgr Martinus D Situmorang OFM Cap dan ditabiskan oleh Uskup Medan, Mgr AGP Datubara bersama Mgr Bergamin dan Mgr Anicetus Sinaga di Gereja Katedral Padang, dia baru berusia 36 tahun. Selain sebagai Uskup Padang, Mgr MD Situmorang OFMCap yang mengambil motto Fides Per Caritatem Operatus saat ini juga menjadi Ketua Presidium Konferensi Waligereja Indonesia (KWI).

Misa Syukur juga dihadiri langsung mantan Duta Besar Vatikan untuk Indonesia Mgr Leopoldo Girelli, mantan para mantan Ketua Konferensi Waligereja Indonesia, 22 Uskup se-Indonesia dan 70 orang pastor. Duta Besar Vatikan untuk Indonesia, Mgr Leopoldo Girelli menyampaikan surat pujian dan ucapan selamat dari pemimpin umat Kristen sedunia, Paus Yohanes Paulus II kepada Mgr Martinus yang telah menjadi pengembala yang tabah dalam membimbing umatnya yang berada di Kota Padang dan sekitarnya.

 

Tugas Bersama

Wali Kota Padang, Drs H Fauzi Bahar MSi yang ikut hadir pada acara tersebut mengatakan, semua umat beragama harus saling memelihara kerukunan demi menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.

“Walaupun kita hidup dengan keyakinan yang berbeda, namun perbedaan itu bukanlah suatu penghalang untuk menjaga kerukunan, dan itu merupakan tugas kita bersama,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Fauzi Bahar juga menyematkan pin emas kepada Mgr Martinus D Situmorang OFMCap sebagai ungkapan atas pengabdiannya dalam membangun Kota Padang pada bidang keagamaan

Umat Kristen Sulut Tolak Pemilu Hari Minggu

•May 19, 2008 • Leave a Comment

Ribuan umat Kristen di Sulawesi Utara (Sulut) menolak pelaksanaan pemilihan umum (pemilu) pada hari Minggu. Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) juga meminta Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk memajukan jadwal pencoblosan, yang semula 5 April 2009 menjadi 4 April 2009.

Umat Kristen yang menolak jadwal hari pencoblosan itu berasal dari Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM), yang merupakan Gereja Protestan terbesar di Sulut. “Kami menolak dan meminta KPU pusat mengubah jadwal. Selain mengangu kegiatan ibadah umat Kristen, juga akan membuat partisipasi warga rendah dalam pemilu sehingga kami dirugikan,” kata Roy Roring, Ketua Kaum Bapa GMIM di Manado, Jumat (16/5).

Roring mengatakan mayoritas warga Sulut adalah umat Kristen, yang menjadikan Minggu sebagai hari ibadah. Mereka tidak ingin hari ibadah itu diganggu dengan kegiatan lain.

“Jadwal KPU kalau hari pencoblosan dilaksanakan pada hari Minggu itu keliru. Kita harus menghargai umat Kristen, karena dipastikan ibadah berlangsung dari pagi hingga siang dan jadwal pemilu juga biasannya dari pagi hingga siang,” kata Roring.

Sebelumnya, Bawaslu merekomendasikan agar KPU mengubah tanggal pelaksanaan pemungutan suara yang jatuh pada 5 April 2009. Bawaslu menyarankan agar memajukan pelaksanaannya menjadi 4 April 2009 dengan pertimbangan pada tanggal tersebut masih dalam kurun waktu lima tahun.

Pertimbangan Bawaslu, jangan sampai pada pelaksanaan pemungutan suara itu pemilih, terutama dari warga Nasrani, tidak bisa menggunakan hak pilih yang berdampak pada konsekuensi legitimasi hasil pemilu itu.

Anggota Bawaslu, Bambang Eka Cahya Widodo menjelaskan pertimbangan Bawaslu merekomendasikan perubahan hari pemungutan suara itu pertama mengingat 5 April 2009 adalah hari ibadah bagi umat Kristiani dan hari raya Cheng Beng yang dirayakan warga Tionghoa.

Ia mengatakan undang-undang tidak menentukan tanggal yang pasti untuk pemungutan suara, namun hanya memerintahkan agar pelaksaanaan pemilu dilakukan lima tahun sekali. Dikhawatirkan, jika tetap dilaksanakan pada 5 April 2009, banyak pemilih yang tidak menggunakan hak mereka.

 

Mempertimbangkan

Sementara itu, Ketua KPU Abdul Hafiz Anshary mengatakan KPU memang sudah mempertimbangkan perubahan jadwal pemungutan suara itu. Tetapi, saat ini KPU masih fokus pada persoalan verifikasi partai politik, sehingga pembahasan mengubah atau tidak jadwal pemungutan suara belum dibahas.

Ia menjelaskan KPU tidak menutup kemungkinan untuk mengubah jadwal pemungutan suara itu karena memang KPU sudah menerima masukan dari berbagai pihak. Tetapi, untuk mengubah jadwal itu juga membutuhkan keputusan pleno.

Selain itu, pemahaman pemilu lima tahun sekali juga harus dikaji. Apakah lima tahun itu dalam ukuran bulan atau tanggal. Jika dalam jangka waktu bulan, maka untuk mengubah jadwal pelaksanaan pemilu tidak menjadi masalah.

Namun, jika memajukan hari pemungutan suara, Hafiz mengatakan tidak dapat dilakukan karena terkait dengan daftar kependudukan yang harus diserahkan pemerintah 12 bulan sebelum hari pemungutan suara.

Dari Suara Pembaruan, 19 Mei 2008

Istri Di Atas Atau Di Bawah

•May 19, 2008 • Leave a Comment

Andar Ismail

Ketika Tuhan sedang sibuk menciptakan Hawa, Adam menonton dengan asyik. Sebentar-sebentar ia berkomentar, “Tuhan, bikin rambutnya keriting! Tuhan, alisnya jangan begitu! Tuhan matanya yang belo, ya! Tuhan, hidungnya kok pesek? Tuhan, bibirnya jangan terlalu tebal! Tuhan, dadanya begini….!”

“Ah, kamu hanya merecoki saja. Kamu diam-diam saja. Tanggung beres,” ujar Tuhan sambil terus bekerja.

Tetapi Adam masih terus mengoceh. Akhirnya Tuhan hilang kesabaran-Nya dan berkata, “Sudah, kamu tidur saja!”

Karena itu, Tuhan menjadikan Adam tidur nyenyak ketika Hawa diciptakan. Akibatnya, Adam menerima seorang istri secara “terima jadi”. Begitulah, tutur si empunya cerita, sampai sekarang suami merasa kurang puas dengan penampilan dan rupa istrinya.

Cerita itu adalah salah satu cerita para rabi agama Yahudi yang bernada male-chauvinism, yaitu yang mengunggulkan pria dan melecehkan kedudukan wanita. Tidak banyak berbeda dari masyarakat Timur-Tengah lainnya, demikian juga masyarakat Yahudi purba menganut budaya pria-sentris.

Dominasi Pria

Mengingat bahwa Alkitab ditulis oleh pada zaman itu, tidaklah mengherankan jika jalan pikiran dominasi pria juga tampak dalam Alkitab. Misalnya, daftar silsilah dan keturunan dalam Alkitab hanya memuat nama laki-laki. Dalam cerita tentang Yesus memberi makan kepada banyak orang, yang dihitung hanyalah laki-laki (lihat Mat. 14:21 atau Mrk. 6:44). Mengikuti budaya itu, Rasul Paulus melarang wanita berpartisipasi dalam jemaat, “….. perempuan-perempuan harus berdiam diri dalam pertemuan-pertemuan jemaat. Sebab mereka tidak diperbolehkan untuk berbicara…. Jika mereka ingin mengetahui sesuatu, baiklah mereka menanyakannya kepada suaminya di rumah” (1 Kor.14:34-35). Bahkan dalam surat Timotius ada larangan bagi wanita untuk mengajar di jemaat: “Aku tidak mengizinkan perempuan mengajar dan juga tidak mengizinkannya memerintah laki-laki…..” (1 Tim. 2:12). Perhatikan apa motivasi larangan itu: “Karena Adam yang pertama dijadikan, kemudian barulah Hawa” (1 Tim. 2:13).

Dalam budaya dewasa ini yang menghargai persamaan derajat pria dan wanita, ayat-ayat Alkitab tersebut terasa mengganggu. Apalagi ayat-ayat yang menyuruh istri untuk tunduk kepada suami, seperti yang terdapat di Efesus 5. Tetapi benarkah ayat di Efesus itu bermaksud melecehkan kedudukan istri? Cobalah kita lihat Efesus 5:21-22 sebagai berikut: “……rendahkanlah dirimu se-orang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus. Hai istri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan…..”

Di kedua ayat itu terdapat dua kata kerja, yaitu rendahkanlah (ay. 21) dan tunduklah (ay.22). Sebenarnya dalam naskah Yunaninya hanya ada satu kata kerja yaitu, hupotassomenoi (dari hupotasso, artinya: menempatkan diri di bawah). Terjemahan yang harfiah adalah: “……. hendaklah saling menempatkan diri di bawah dalam takut kepada Kristus. Para istri kepada para suami mereka sendiri…..”

Kemudian dalam ayat 25 tertulis, “Hai suami, kasihilah (Yunani: agapate) istrimu sebagaimana Kristus telah…..” Kata agapate (dari agapao) berarti menyatakan kasih, dan juga dapat berarti memberi diri.

Kedua kata kerja itu, yakni hupotasso dan agapao, mempunyai maksud yang sama, sebab dalam “menempatkan diri di bawah” terkandung arti “memberi diri” dan dalam “memberi diri” kita “menempatkan diri di bawah”. Jadi, kalimat: “Hai istri, tunduklah kepada suamimu…..” (ay.22) adalah sejajar dengan kalimat: “Hai suami, kasihilah istrimu…..”(ay.25). Dalam perintah kepada istri untuk tunduk terkandung juga perintah untuk memberi diri, terkandung juga perintah untuk tunduk. Dengan kata lain, suami dan istri harus saling tunduk dan saling memberi diri. Jadi, di sini tidak terdapat pelecehan seksual terhadap kedudukan istri.

Tetapi pembahasan kita belum tuntas, sebab di ayat 23 dikatakan bahwa suami adalah kepala istri. Kata kepala di sini jangan diartikan secara buruk. Menjadi kepala bukan berarti boleh melecehkan pihak yang lain. Apakah kepala di tubuh kita melecahkan tangan atau kaki? Menjadi kepala berarti mengkoordinasikan kegiatan. Lagi pula pada tubuh kita bukan hanya kepala yang penting, melainkan setiap anggota tubuh adalah penting. Kalau suami kepala, maka istri adalah leher tempat kepala itu bertumpu.

Mungkin ada wanita yang masih penasaran. Mengapa hanya suami yang disebut kepala? Mengapa bukan suami dan istri kedua-duanya? Kita tidak usah curiga terhadap istilah kepala. Kepala berarti pemimpin dan koordinator. Di mana ada sekelompok orang, di situ ada pemimpin. Demikian juga dalam keluarga. Anak akan kehilangan pegangan kalau tidak ada kepemimpinan. Kosongnya peran kepemimpinan dapat mengakibatkan disintegrasi keluarga.

Inilah pandangan kristiani mengenai kedudukan suami istri. Keduanya berbeda dan berbagi tugas untuk fungsi berlainan. Keduanya mempunyai nilai dan derajat yang sama.

Penulis adalah pengarang buku-buku renungan Seri Selamat BPK Gunung Mulia

Peran Misionaris Membentuk Karakter Macau

•May 8, 2008 • Leave a Comment

Diakui atau tidak, para misionaris dari ordo Serikat Jesus atau SJ memiliki peran yang sangat penting dalam pembentukan karakter, intelektual, dan kekayaan bangunan sejarah Makau. Berkat peran misionaris, kota ini sarat dengan bangunan bersejarah, termasuk ikon terpenting Makau, yakni Kompleks Reruntuhan Santo Paul.

Interaksi antara peradaban Makau dan peradaban Barat bermula pada awal tahun 1550, ketika seorang warga dan pelaut asal Portugis tiba di wilayah bernama Ou Mun. Oleh warga setempat, pelaut Portugis tersebut dijuluki A Ma Gao.

Nama A Ma Gao inilah yang kemudian diadopsi menjadi nama Makau. Atas izin Pemerintah Guangdong waktu itu, pelaut Portugis bermukim dan mendirikan bangunan. Hanya dalam waktu singkat, Makau berkembang menjadi sebuah kota dagang.

Menurut Pastor Albert Chan SJ, pakar sejarah China dan penulis buku, perubahan menjadi kota dagang ini juga didukung situasi kehidupan internal di Makau di mana saat itu terjadi pertemuan antara budaya Timur dan Barat.

Dalam tulisan sejarah Makau, Albert menjelaskan bahwa Matteo Ricci (1552-1610) merupakan pastor Jesuit sekaligus misionaris pertama yang menyebarkan ajaran Katolik ke daratan China. Selain Matteo Ricci, Serikat Jesus juga mengutus beberapa misionaris untuk melanjutkan karya kerasulan Santo Fransiskus Xaverius yang tertunda.

Lewat sosok Ricci inilah, ordo Serikat Jesus bisa masuk, mengenal, lalu memulai karya misionaris di Makau. Kemudian, ordo ini berkiprah dan mengukir sejarah karya misionaris selama 450 tahun. Eksistensi ordo Serikat Jesus di Makau bukan hanya mengarah ke bentuk pelayanan kemanusiaan, pendidikan, dan bantuan materiil, melainkan juga pelayanan iman Katolik.

Jesuit juga tidak hanya berkontribusi besar atas pembangunan gereja yang kemudian menjadi keunggulan Makau, tetapi juga turut membentuk karakter intelektual masyarakat Makau. Tradisi intelektual masih berlanjut sampai sekarang melalui keberadaan Institut Ricci Makau.

Karya terpenting

Berdasarkan catatan sejarah tertulis yang terpasang di samping Reruntuhan Santo Paul, salah satu mahakarya Ordo Serikat Jesus di Makau adalah membangun Katedral Santo Paul yang kini tinggal reruntuhan dan puing. Katedral tersebut dibangun sejak tahun 1582 sampai 1602 oleh para imam Jesuit.

Semasa berdiri, Katedral Santo Paul merupakan bangunan dan gedung Gereja Katolik yang terbesar di kawasan Asia. Tahun 1594, di lingkungan Katedral juga dibangun sebuah kolese (lembaga pendidikan) bernama Kolese Santo Paul. Namun, pada tahun 1835, serangan badai topan dahsyat melanda Makau sehingga menimbulkan kebakaran dan merobohkan kompleks Katedral dan Kolese Santo Paul.

Pada tahun 1620-1627, seorang pastor Jesuit asal Italia, Carlo Spinola, bersama seorang Katolik Jepang mengumpulkan dan menata puing-puing Katedral. Restorasi kompleks reruntuhan Santo Paul secara menyeluruh baru dilakukan pada 1990-1995. Bersamaan itu juga dibangun Museum of Sacred Art and Crypt yang memiliki ruang pamer hasil karya religiusitas termasuk melukis dan seni rupa.

Kemudian, saat ini kompleks reruntuhan dipugar oleh Pemerintah Makau dan diubah menjadi museum. Tahun 2005, kompleks reruntuhan Santo Paul dicatat sebagai Situs Peninggalan Sejarah Dunia UNESCO sekaligus ikon utama bangunan bersejarah Makau.

Dalam perkembangannya, bukan hanya ordo Serikat Jesus yang akhirnya tertarik menjadikan Makau sebuah lahan garapan baru. Selain agama Katolik Roma, Makau juga banyak mendapat pengaruh budaya masyarakat Portugis, agama Kristen Protestan, dan budaya China.

Namun, poin terpenting dan inti dari perjalanan sejarah yang teramat panjang ini adalah perubahan Makau menjadi sebuah pintu gerbang utama bagi masuknya peradaban Barat ke China. Selama ratusan tahun, tanah ini menjadi saksi atas terjadinya pertukaran kebudayaan dan peradaban, yang pada akhirnya justru memberi sebuah keunikan tersendiri bagi tradisi dan identitasnya.

Rasanya tak berlebihan jika kemudian Macau Government Tourist Office (MGTO) atau Kantor Pariwisata Pemerintah Makau menganugerahkan The Historic Centre of Macau atau Pusat Kawasan Bangunan Bersejarah Makau. Mengingat kawasan bangunan sejarah sudah menjadi bagian integral dalam denyut nadi kehidupan di Makau. Pemerintah setempat sadar akan pentingnya program konservasi terhadap bangunan dan kawasan.

Dalam konteks yang lebih luas, Direktur MGTO Joao Manuel Costa Antunes menuturkan, semua peninggalan bersejarah ini merupakan kekayaan yang harus dijaga. Keberadaannya mewakili sekaligus menunjukkan keunikan peradaban yang hidup berdampingan, yakni China dan Barat.

”Sehingga pada 15 Juli 2005 lalu, Pusat Kawasan Bangunan Bersejarah Makau mendapat pengakuan internasional karena tercatat dalam World Heritage List,” kata Joao Manuel.

Nama tempat

Sejumlah nama tempat dan kawasan di Makau yang termasuk dalam The Historic Centre of Macau meliputi Barra Square, Lilau Square, St Augustine Square, Senado Square, Cathedral Square, St Dominic Square, Company of Jesus Square, dan Camoes Square.

Di dalam kawasan tersebut, juga terdapat monumen dan bangunan bersejarah, yakni A-Ma Temple, Moorish Barracks, Mandarin’s House, St Lawrence’s Church, Dom Pedro V Theatre, Sir Robert Ho Tung Library, St Joseph’s Seminary and Church, Leal Senado Building, Kuan Tai Temple, Holy House of Mercy, Cathedral, Lou Kau Mansion, St Dominic’s Church, Ruins of St Paul’s, Na Cha Temple, Section of The Old City Walls, Mount Fortress, St Antony’s Church, Casa Garden, the Protestant Cemetery, dan Guia Chapel. (ONI)

 Diambil dari Kompas, 8 Mei 2008

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.